KERASUKAN
Sebulan lalu, aku bersama Rina ke petilasan Eyang Sri Aji Joyoboyo yang berada di Desa Menang Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri Provinsi Jawa Timur. Tempat pamoksan itu dikeramatkan oleh banyak orang. Jarak peninggalan raja Kediri itu tak jauh dari rumah kami. Motor bututku mampu membawa dua insan pencinta sejarah ke sana. Waktu tempuh 20 menit. Sang surya tersenyum mengiringi langkah dua dara bak kakak beradik.
"Aku barusan diberi wejangan oleh Sri Aji," ujar Rina sembari memungut kembang kantil dari bibir prisma pamoksan.
"Hus ... kok njambal? Eyang Prabu Sri Aji." Telunjuk tangan kananku vertikal di depan mulut. Lalu, aku pun melirik seraya menyeringai
Seusai dari pamoksan, kami ke Sendang Tirto Kamandanu. Lokasi itu tak jauh dari petilasan Eyang Prabu Sri Aji Joyoboyo. Di dekat Sumur dan Sendang terdapat petilasan Eyang Srigati atau Eyang Srigading. Kami pun ziarah ke petilasan orang kepercayaan Eyang Prabu Sri Aji Joyoboyo.
"Aduh ... tubuhku dirasuki ular naga raksasa." Rina membongkok seakan memikul beban berat.
Sesaat kemudian, tubuh Rina bercumbu dengan ibu bumi. Ia bergerak selayaknya hewan melata merayap di atas tanah. Lidah temanku menjulur-julur. Kepalanya bergeol-geol ke kiri dan kanan.
"Lia ... Dahlia ... tolong aku." Rina memanggilku dengan suara lantang.
Para pengunjung berduyun-duyun mengelilingi Rina. Aku pun tak menghiraukan ulah si drama queen. Diriku khawatir termakan prank-nya. Kuayunkan kaki ke depan gerbang. Tak lama kemudian, aku duduk di kursi terbuat dari semen.
"Ngakunya sakti kok masih bisa ditembus makhluk halus," gerutuku.
Perlahan, aku beranjak dari tempat duduk. Kemudian, aku mendekat ke pagar. Penglihatanku menerobos di sela-sela.pilar pagar. Napasku bergemuruh.
"Tempat ini masih sakral. Pengunjung harus lurus niatnya," tutur Kuncen sembari mengurut punggung Rina.
Kuncen sebutan untuk juru pelihara. Kuncen seorang pria berpakaian adat Jawa. Beliau memakai baju surjan, celana hitam, dan belangkon.
Temanku sok indigo itu pun hanya mengangguk seraya menggeliatkan tubuhnya. Mbah kuncen seolah mencabut sesuatu dari tubuh wanita merasa paling sakti sedunia. Aku mendekat ke arah mereka.
"Orang kerasukan bukan karena kalut?" tanyaku digelayuti rasa penasaran.
"Kesombongan juga bisa jadi akses makhluk astral?" sambungku sambil mataku melirik sinis ke arah Rina.
Kuncen mengangguk disertai mengacungkan jempol tangan kanan.
"Baru tau aku," imbuhku.
Rina tertunduk disertai napas terengah-engah. Wajahnya merah kehitaman. Bulir-bulir bening membasahi wajahnya. Baju Wanita sok punya mata ketiga itu tampak basah.
"Sebenarnya, naga itu sudah di belakang Mbak ini sebelum kalian masuk area sini." Kuncen merespon sembari menunjuk ke arah Rina dilanjut menyulut sebatang rokok.
"Di tempat sakral harus jujur, ya, Mbah?" tanyaku bernada menyindir.
"Iya. Di sini, kita gak boleh adigang adigung adiguna." Kuncen menjawab sambil mengembuskan asap rokok.
Mataku sesekali melirik tajam ke arah temanku yang sok punya mata ajna.
"Eyang Srigati paling gak suka sama orang yang ngaku-ngaku punya ilmu paranormal," ulas kuncen disusul dengan senyum simpul.
"Berarti, Rina bohong bisa melihat roh Eyang Prabu? Bisa jadi, petuah Eyang, Rina gak boleh jumawa? Ah, entahlah." Aku monolog dalam hati.
Aku segera menuju area parkir. Rina tergopoh-gopoh mengikutiku.
Profil Penulis
Nadhirul Wismiyati alumnus program studi S2 Pendidikan Matematika Universitas Negeri Malang, seorang penulis profesional mendapatkan sertifikat penulis non fiksi dari LSP PEP dengan predikat berkompeten, dan banyak buku yang dilahirkan oleh penulis satu ini.
Comments
Post a Comment